Wednesday, October 31, 2012

TEORI BELAJAR BERMAKNA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAN METODE PROBLEM SOLVING


TEORI BELAJAR BERMAKNA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAN METODE PROBLEM SOLVING








Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah SPM
Dosen Pengampu : Lukman Harun M.pd
Disusun oleh:
Hafidz Husaini                                                       (11310065)
Chiptiono yoga P.                                                   (11310122)

Kelas 3I
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Dewasa ini dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan yang mengharuskan mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang dapat memenuhi tuntutan zaman. Pendidikan merupakan suatu wadah kegiatan yang berusaha untuk membangun masyarakat dan watak bangsa secara berkesinambungan yaitu membina mental, rasio, intelektual dan kepribadian dalam rangka manusia seutuhnya. Oleh karena itu pendidikan perlu mendapat perhatian, penanganan, dan prioritas secara intensif dari pemerintah, masyarakat maupun pengelola pendidikan.

Pembelajaran merupakan suatu proses karena tidak hanya proses transfer informasi guru kepada siswa, tetapi juga melibatkan berbagai tindakan dan kegiatan yang harus dilakukan terutama jika menginginkan hasil belajarnya menjadi lebih baik. Salah satu proses pembelajaran yang menekankan berbagai tindakan dan kegiatan adalah dengan menggunakan metode pembelajaran tertentu. Metode pembelajaran pada hakekatnya merupakan sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran serta dapat mengembangkan dan meningkatkan aktivitas belajar yang dilakukan guru dan siswa.

Sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, matematika telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pengetahuan lainnya. Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di negara kita, pentingnya matematika dapat kita amati dari waktu yang digunakan dalam pelajaran matematika di sekolah, yaitu waktu yang digunakan lebih lama dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya, serta pelaksanaan pendidikan diberikan pada semua jenjang pendidikan yang dimulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Dengan adanya pelajaran matematika pada semua jenjang pendidikan, diharapkan siswa dapat berfikir logis, kritis, rasional dan percaya diri. Namun sangat disayangkan, karena sampai saat ini, permasalahan yang menjadi rahasia umum di dunia pendidikan kita adalah prestasi belajar matematika siswa yang relatif rendah.

Kurangnya prestasi belajar matematika siswa disebabkan oleh kurangnya minat siswa dalam pembelajaran matematika. Siswa masih jarang mengajukan pertanyaan walaupun guru sudah memancing dengan pertanyaan- pertanyaan yang sekiranya siswa belum jelas. Aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika juga masih rendah dilihat dari kurangnya aktivitas siswa dalam mencatat, dan mengerjakan soal- soal latihan. Dan masih sangat berkembangnya anggapan bahwa siswa adalah obyek untuk menerima apa yang disampaikan guru yang membuat siswa hanya bisa menghafal materi- materi yang diberikan guru sehingga siswa tidak berani mengeluarkan ide- ide pada saat pembelajaran berlangsung membuat siswa menjadi pasif dan kurang berminat yang menjadikan hasil belajar siswa pun berkurang.

Problem Solving merupakan suatu metode pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan ketrampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan ketrampilan. Dengan pendekatan ini diharapkan siswa dapat lebih terampil memecahkan masalah dan mengembangkan pikirannya sehingga dapat meningkatkan motivasai peserta didik dalam belajar. Karena tujuan pembelajaran matematika saat ini adalah agar siswa dapat memecahkan masalah ( Problem Solving). Problem Solving merupakan usaha yang tepat agar tercapai tujuan pembelajaran matematika.

Selain pendekatan, media pembelajaran juga sangat penting untuk menarik siswa untuk mau belajar dan membuat siswa antusias dengan materi yang diberikan dan menimbulkan motivasi belajar siswa. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2002: 6). Secara umum media pembelajaran dalam pendidikan disebut media, yaitu berbagai komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk berpikir, menurut Gagne (dalam Sadiman, 2002:6).

Komputer sebagai sarana informasi yang semakin berkembang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Dalam pendidikan computer telah berkembang tidak hanya sebagai alat yang digunakan untuk membantu urusan administrasi saja, melainkan juga memungkinkan sebagai salah satu alternatife sebagai media pembelajaran. Sebagai contoh dengan adanya multimedia atau video digital yang mampu menampilkan gambar atau tulisan yang diam dan bergerak serta bersuara. Hal semacam ini perlu ditanggapi secara positif oleh para guru bidang studi matematika, sehingga komputer dapat menjadi alternative media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Salah satu media yang digunakan yaitu dengan pemanfaatan software Microsoft Office PowerPoint.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis mencoba meneliti  pengaruh penggunaan media pembelajaran berbasis komputer dengan memanfaatkan software Microsoft Office PowerPoint melalui metode Problem Solving pada pokok bahasan Pembuatan Bangun Ruang: kubus, balok, dan limas segiempat. Apakah akan meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan di jelaskan nanti yaitu :
1.      Apa itu Teori Belajar Bermakna?
2.      Apa itu pendekatan pembelajaran Kontekstual?
3.      Apa itu metode pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem Solving)?
4.      Bagaimana proses pembelajaran matematika melalui pembelajaran model Problem Solving dengan menggunakan media berbasis komputer untuk meningkatkan hasil belajar siswa?



C.     Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari penyusun makalah ini :
1.      Mengetahui tentang teori belajar bermakna.
2.      Mengetahui tentang pendekatan pembelajaran Kontekstual.
3.      Mengetahui tentang metode pembelajaran Problem Solving.
4.      Untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam metode Problem Solving menggunakan media berbasis komputer.




BAB II
LANDASAN TEORI
A.   Teori Belajar
  David Ausubel adalah seorang psikologi Amerika yang melakukan pekerjaan sarjana di University of Pennsylvania (pra-kedokteran dan psikologi ). Dia lulus dari sekolah medis di Middlesex University. Kemudian ia meraih gelar Ph.D di bidang Psikologi Perkembangan di Universitas Columbia. Ia dipengaruhi oleh karya Piaget. Ia menjabat di fakultas di beberapa universitas dan pensiun dari kehidupan akademik pada tahun 1973 dan mulai praktek dalam psikiatri. Dr Ausubel diterbitkan beberapa buku pelajaran dalam psikologi perkembangan dan pendidikan, dan lebih dari 150 jurnal artikel. Dia dianugerahi Penghargaan Thorndike untuk "Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan Distinguished" oleh American Psychological Association (1976).
Menurut Ausubel dalam (Dahar, 1988: 134) belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi disajikan pada siswa, melalui penemuan atau penerimaan. Belajar penerimaan menyajikan materi dalam bentuk final, dan belajar penemuan mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang diajarkan. Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana cara siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang telah dimilikinya, ini berarti belajar bermakna. Akan tetapi jika siswa hanya mencoba-coba menghapal informasi baru tanpa menghubungkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya, maka dalam hal ini terjadi belajar hafalan.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
Menurut Ausubel, seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam sekema yang telah ia punya. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan sekema yang ada atau dapat mengubahnya. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri.
Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan Konstruktivisme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation.
Menurut Ausebel,  ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu :
a.       Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat,
b.      Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip,
c.       Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Berdasarkan  Pandangannya  tentang  belajar bermakna, maka David Ausable mengajukan 4 prinsip pembelajaran , yaitu:
a.       Pengatur awal (advance organizer)
b.      Diferensiasi progresif
c.       Belajar superordinat
d.      Penyesuaian Integratif


B.     Pendekatan Pembelajaran
Dari sekian banyak pendekatan pembelajaran yang dapat dilakukan guru di kelas, terdapat  salah satu pendekatan yang disebut Pendekatan Kontekstual ( Contextual Teaching and Learning ). Dengan pendekatan ini diharapkan siswa lebih cepat memahami persoalan-persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika, serta mampu menyelesaikan persoalan-persoalan itu melalui pengetahuan yang telah dimilikinya.
Kebanyakan pelajar di sekolah tidak mampu membuat kaitan anatara apa yang mereka pelajari dengan bagaiamana pengetahuan itu dapat dimanfaatkan. Hal ini terjadi karena cara mereka memproses tujuan dan motivasi untuk belajar tidak tersentuh melalui kaidah pengajaran yang biasa dilakukan.
Pembelajaran konstektual merupakan suatu konsep belajar di mana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan nya dalam kehidupan sehari - hari. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih
bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung  alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan  mengalami,  bukan menerima transfer pengetahuan dari guru. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dan bagaimana mencapainya.
Menurut Depdiknas ( 2002 : 3 ) “ Pembelajaran Kontekstual ( Contextual Teaching and Learning ) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari “.
Tugas guru dalam pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah mengelola sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Menurut Nurhadi dan A.G. Senduk  ( 2003 : 31 ) ,  “Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran, yaitu :
Kostruktivisme ( contractivism ), menemukan ( inquiri ),  masyarakat belajar ( learning community ), bertanya ( questioning ), permodelan ( modelling ) refleksi ( reflektion ),  dan penilaian sebenarnya ( authentic assessment )”.
Penggunaan pendekatan Kontekstual dalam pembelajaran Matematika merupakan salah satu alternatif untuk menyajikan pembelajaran matematika lebih menarik dilihat dari karakteristik pendekatan tersebut. Pembelajaran akan lebih bermakna jika dimulai dari apa yang diketahui siswa, dan siswa mengalami sendiri proses pembelajaran tersebut sehingga bisa mengkonstruksi pengetahuan baru yang diperolehnya dari pengetahuan yang sudah dimiliki.
Dalam pembelajaran kontekstual, terdapat beberapa ciri, yaitu:
a.                               Pembelajaran aktif: peserta didik diaktifkan untuk mengkontsruksi pengetahuan dan memecahkan masalah.
b.                              Multi konteks: pembelajaran dalam konteks yang ganda akan memberikan peserta didik pengalaman yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengidentifikasi ataupun memecahkan masalah dalam konteks yang baru (terjadi transfer).
c.                               Berhubungan dengan dunia nyata: pembelajaran yang menghubungkan dengan isu-isu kehidupan nyata melalui kegiatan pengalaman di luar kelas dan simulasi.
d.                               Pemecahan masalah: berpikir tingkat tinggi yang diperlukan dalam memecahkan masalah nyata harus ditekankan pada kebermaknaan memorasi dan pengulangan-pengulangan.
Kita ketahui setiap pendekatan yang kita pergunakan dalam pembelajaran kekurangan dan kelebihan atau dengan kata lain memiliki kekurangan dan kelebihan atau dengan kata lain memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dengan pembelajaran CTL adalah real word learning. Mengutamakan pengalaman nyata, berfikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa aktif, kritis, dan kreatif, pengetahuan bermakna, dan kegiatannya bukan mengajar tetapi belajar. Selain itu keunggulan lain yakni kegiatannya lebih kepada pendidikan bukan pembelajaran, sebagai pembentukan manusia, memecahkan masalah, siswa aktif guru mengarahkan, dan hasil belajar diukur dengan berbagai alat ukur tidak hanya tes saja.
Disamping itu keunggulan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL juga memiliki kelemahannya, antara lain: bagi guru kelas, guru harus memiliki kemampuan  untuk memahami secara mendalam dan komprehensif tentang (1) konsep pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL itu sendiri,  (2) potensi perbedaan individual siswa di kelas, (3) beberapa pendekatan dalam pembelajaran yang berorientasi kepada siswa aktivitas siswa, dan (4) sarana, media alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa dalam  dalam belajar. Bagi siswa diperlukan anatara lain: (1) inisiatif dan kreatifitas dalam belajar, (2) memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari setiap mata pelajaran, (3) adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan, dan (4) memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.


C.     Metode Pembelajaran
Pada dasarnya guru adalah seorang pendidik. Pendidik adalah orang dewasa dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah satu hal yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan mengajar di kelas. Salah satu yang paling penting adalah performance guru di kelas. Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian guru harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.
Metode mengajar yang diterapkan dalam suatu pengajaran dikatakan efektif bila menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan atau dapat dikatakan tujuan telah tercapai, bila semakin tinggi kekuatannya untuk menghasilkan sesuatu semakin efektif pula metode tersebut. Sedangkan metode mengajar dikatakan efisien jika penerapannya dalam menghasilkan sesuatu yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga, usaha pengeluaran biaya, dan waktu minimum, semakin kecil tenaga, usaha, biaya, dan waktu yang dikeluarkan maka semakin efisien metode itu.
Metode atau cara yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik, jika materi yang diajarkan dirancang terlebih dahulu. Dengan kata lain bahwa untuk menerapkan suatu metode atau cara dalam pembelajaran matematika sebelumnya harus menyusun strategi belajar mengajar, dan akhirnya dapat dipilih alat peraga atau media pembelajaran sebagai pendukung materi pelajaran yang akan diajarkan.

1.      Metode Pembelajaran Problem Solving
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan suatu permasalahan, yang kemudian dicari penyelasainnya dengan dimulai dari mencari data sampai pada kesimpulan.

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam penggunaan metode problem solving mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

a.       Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan.
b.      Mencari data atau keterangan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.
c.       Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut.
d.      Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut.
e.       Menarik kesimpulan. (Ibid, h. 92.)


Keunggulan-keunggulan metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:

a.       Pemecahan masalah (problem solving) merupakan tehnik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran.
b.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan siswa kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c.       Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa.
d.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e.       3Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
f.       Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
g.      Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i.         Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j.        Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 220-221.)


Kelemahan-kelemahan metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:

a.       Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
b.      Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran.
c.       Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 93.)


BAB III
PENUTUP

A.     Simpulan
Menurut Ausubel dalam (Dahar, 1988: 134) belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi disajikan pada siswa, melalui penemuan atau penerimaan. Belajar penerimaan menyajikan materi dalam bentuk final, dan belajar penemuan mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang diajarkan. Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana cara siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang telah dimilikinya, ini berarti belajar bermakna. Akan tetapi jika siswa hanya mencoba-coba menghapal informasi baru tanpa menghubungkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya, maka dalam hal ini terjadi belajar hafalan.
Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation.
Pada metode pembelajaran problem solving, Metode problem solving (metode pemecahan masalah) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan suatu permasalahan, yang kemudian dicari penyelesaiannya dengan dimulai dari mencari data sampai pada kesimpulan.
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.




B.     Saran
Dari pembahasan diatas, maka penulis dapat menyarankan bahwa menggunakan teori belajar bermakna (ausubel) dengan metode pembelajaran problem solving dengan pendekatan CTL yang berbasis ICT, cukup bagus. Yang terpenting yaitu pada pemilihan materi apa yang akan kita ajarkan pada anak didik melalui teori belajar behaviorisme.




DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas
HIMITSHUQALBU.” Metode Mengajar (metode pemecahan masalah “problem solving” dan metode studi lapangan)”. http://himitsuqalbu.wordpress.com/2012/03/12/metode-mengajar-metode-pemecahan-masalah-problem-solving-dan-metode-studi-lapangan-makalah/. (diakses tanggal 14 Oktober 2012)
Nisa,Karomatun.”Strategi Pembelajaran CTL”. http://karomatunnisa.blogspot.com/2012/06/stategi-pembelajaran-ctl.html. (diakses 20 Oktober 2012)
Shadiq, F & Mustajab, N.A. 2011. Penerapan Teori Belajar Dalam Pembelajaran Matematika Di SD. Yogjakarta : Depdiknas.
Yusrin.”Teori Belajar Ausubel”. http://yusrin-orbyt.blogspot.com/2012/06/teori-belajar-ausubel.html. (diakses 22 Oktober 2012)

Ditulis Oleh : Hafidz Husaini // 6:44 AM
Kategori:

1 comments:

 
Powered by Blogger.